Feeds:
Pos
Komentar

Claim

Kita Di Indonesia Telah Terlanjur Mengartikan Klaim Sebagai Tuntutan Atau Gugatan Sehingga Kebanyakan Pelaksana Konstruksi Di Indonesia Menganggap Klaim Konstruksi Sebagai Sesuatu Yang “Tabu”.

Disatu Pihak (Pemerintah) à Alergi

Pihak Penyedia Jasa à Merasa Segan/ Ewuh-Pekewuh à Dicap Sebagai Penyedia Jasa / Kontraktor Yang Rewel.

Pengertian Klaim Beberapa Kepustakaan Indonesia

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Wjs Purwodarminta:

Klaim (N) Adalah Tuntutan Atas Suatu Fakta Bahwa Seorang Berhak (Ut Memiliki Atau Mempunyai) Atas Sesuatu

Kamus Umum Bahasa Indonesia, Badudu-Zain

Klaim : Tuntutan Atas Sesuatu Yang Dianggap Menjadi Hak; Tuntutan Atas Sesuatu Yang Dianggap Menyalahi Perjanjian Tau Kontrak.

Kamus Bahasa Indonesia Kontenporer, Peter Salim, Yenny Salim

Klaim (N) : Tuntutan Pengakuan Bahwa Seseorang Berhak Memiliki Atas Sesuatu.

Pengertian Klaim Barat Versus Indonesia

  1. Dunia Barat

Dari Beberapa Tulisan Dapat Disimpulkan Bahwa Hampir Semua Batasan Dari Kepustakaan Barat Menyatakan Bahwa Klaim Adalah Suatu Permintaan (Demand) Dan Bukan Tuntutan, Ini Adalah Pengertian Yang Benar (Yasin, N)

  1. Indonesia

Sebaliknya, Hampir Semua Batasan Dari Kepustakaan Kita / Indonesia  Menyatakan Bahwa Klaim Adalah Tuntutan. Mungkin Ini Yang Menyebabkan Klaim Menjadi Sesuatu Yang Kurang Disukai Atau Bahkan Menjadi Sesuatu Yang Tabu.

Klaim = Tuntutan?

Klaim Adalah Tidak Lebih Dari Sebuah Permintaan

Klaim Yang Tidak Dipenuhi à Tuntutan à Sengketa à Melalui Lembaga Peradilan, Arbitrase Atau Jalur Alternatif.

Pengertian Klaim Konstruksi

Klaim Konstruksi Adalah Klaim Yang Timbul Dari Atau Sehubungan Dengan Pelaksanaan Suatu Pekerjaan Jasa Konstruksi Antara Pengguna Jasa Dan Penyedia Jasa Atau Antara  Penyedia Jasa Utama Dgn Sub-Penyedia Jasa Atau Pemasok Bahan Atau Antara Pihak Luar Dan Pengguna/ Penyedia Jasa Yang Biasanya Mengenai Permintaan Tambahan Waktu, Biaya Atau Kompensasi Lain.

Klausula Klaim Dlm Kontrak Konstruksi

  1. Di Indonesia

Hampir Tidak Ada Kontrak Konstruksi Di Indonesia (Terutam Pengguna Jasa: Pemerintah) Yang Memuat Klausula Mengenai Klaim, Kecuali Kontrak-Kontrak Yang Mengacu Pada Sistem Kontrak Konstruksi International Seperti Fidic, Jct, Sia.

  1. Di Dunia Barat

Hampir Semua Sistem/ Standart Kontrak International Telah Mencantumkan Klausula Klaim Dalam Kontrak Konstruksi. Berarti Bahwa Baik Pengguna Jasa Maupun Penyedia Jasa Dari Sejak Dini Telah Mengantisipasi Kemungkinal Munculnya Klaim.

Pembahasan Klaim Konstruksi

Sebab-Sebab Timbul Klaim

  1. Sebab-Sebab Umum

Komunikasi Antara Pengguna Jasa Dan Penyedia Jasa Buruk

Administrasi Kontrak Yang Tidak Mencukupi

Sasaran Waktu Yang Tidak Terkendali

Kejadian External Yang Tidak Terkendali

Kontrak Yang Artinya Mendua

  1. Sebab-Sebab Dari Pengguna Jasa

Informasi Tender Yang Tidak Lengkap/ Sempurna Mengenai Desain, Bahan, Spesifikasi

Penyelidikan Site Yang Tidak Sempurna/ Perubahan Site

Reaksi/ Tanggapan Yang Lambat

Alokasi Resiko Yang Tidak Jelas

Kelambatan Pembayaran

Larangan Metode Tertentu

  1. Sebab-Sebab Dari Penyedia Jasa

Pekerjaan Yang Cacat/ Mutu Pekerjaan Buruk

Kelambatan Penyelesaian

Klaim Tandingan/ Perlawanan Klaim

Pekerjaan Tidak Sesuai Spesifikasi

Bahanyang Dipakai Tidak Memenuhi Syarat Garansi

Klaim Dpt Terjadi Karena Sebab-Sebab Yang Datangnya Baik Dari Pengguna Jasa (Puga) Maupun Penyedia Jasa (Peja) Atau Sebab-Sebab Lain. Sesungguhnya Ini Yang Menjadi Dasar Filosofi Atau Pandangan Bahwa Klaim Sesungguhnya Sesuatu Yang Wajar Terjadi Di Dunia Konstruksi.

Unsur-Unsur Klaim

Klaim-Klaim Konstruksi  Yang Biasa Muncul Dan Plng Srng Tjd Adalah Klaim Mengenai Waktu Dan Biaya Sebagai Perubahan Pekerjaan.

Namun Terkadang Peja, Disamping Mengajukan Klaim Ut Perubahan Pekerjaan, Jg Mengajukan Klaim Sebagai Dampak Terhadap Pekerjaan Yang Tdk Berubahà Ut Menghitung Biaya Pekerjaan Yg Tdk Diubah Adalah Tidak Mudah.

Biaya-Biaya Ut Melaksanakan Perubahan Pekerjaan Yg Paling Biasa Tjd :

  1. Kenaikan Upah Tenaga Kerja/ Tambahan Atau Upah Yang Lbh Tingi
  2. Tambahan Material Dan Peralatan Yang Diperlukan
  3. Tambahan Pengawasan, Admistrasi Dan Overhead
  4. Tambahan Waktu Yg Perlu Ut Pelaksanaan
  5. Membuka/ Mengerjakan Kembali Pekerjaan
  6. Penurunan Produktivitas Atau Efisiensi
  7. Pengaruh Cuaca
  8. Catatan Mengenai Hambatn-Hambatan Dan Kelambatan2
  9. Demobobilisasi Dan Remobilisasi

10.  Penanganan Material Yang Berlebiahan

11.  Biaya-Biaya Lembur Dan Waktu Kerja

12.  Lembur Yang Berlebihan, Yang Mengarah Penurunan Produktivitas

13.  Salah Penempatan Peralatan

14.  Penumpukan Pd Tempat Kerja

15.  De-Efisiensi Dari Jenis Pekerjaan

Kategori Klaim

Klaim Dapat  Dikategorikan 3 :

  1. Dari Pengguna Jasa Terhadap Penyedia Jasa

Pengurangan Nilai Kontrak

Percepatan Waktu Penyelesaian Pekerjaan

Kompensasi Atas Kelalaian Peja

  1. Dari Penyedia Jasa Terhadap Puja

Tamabahan Waktu Pelaksanaan Pekerjaan

Tambahan Kompensasi

Tambahan Konsesi Atas Pengurangan Spesifikasi Teknis Atau Bahan

  1. Dari Sub Peja Atau Pemasok Bahan Terhadap Peja Utama

Jenis-Jenis Klaim

  1. Klaim Tambahan Biaya Dan Waktu

Keterlambatan Penyelesaian Pekerjaan à Tambahan Waktu Dan Biaya

  1. Klaim Biaya Tak Langsung (Ovrhead)

Keterlambatan Penyelesaian Pekerjaan à Tambahan Waktu Dan Biaya

  1. Klaim Tambahan Waktu (Tanpa Tambahan Biaya)
  2. Klaim Kompensasi Lain

Proses Penangana Klaim à Tugas

Cara-Cara Menyelesaikan Sengketa Konstruksi

Klaim Bukanlah Tuntutan Atau Gugatan Yang Sudah Dianggap Benar Karena Klaim Tidak Selalu Dapat Diselesaikan Atau Dipaneuhi. Apabila Klaim Tidak Dilayani, Berarti Telah Terjadi Sengketa Antara Pihak Yang Berkontrak.

Sengketa Konstruksi Dapat Timbul Karena Antara La In: Klaim Yang Tidak Dilayani, Misalnya Kelambatan Pembayaran, Kelambatan Penyelesaian Pekerjaan, Perbedaan Penafsiran Dokumen Kntrak, Ketidakmampuan Baik Teknis Maupun Manajerial Dr Para Pihak.

Pengertian Sengketa

Sengketa Konstruksi Adalah  Sengketa Yang Terjadi Sehubungan Dengan Pelaksanaan Suatu Usaha Jasa Konstruksi Antara Pihak-Pihak Yang Tersebut Dalam Kontrak Konstruksi. (Construction Dispute)

Sengketa Konstruksi Dapat Diselesaikan Melalui Beberapa Pilihan Yang Disepakati Oleh Para Pihak :

  1. Badan Peradilan (Pangadilan), Atau
  2. Arbitrase (Lembaga Atau Ad Hoc), Atau
  3. Alternatif Penyelesaian Sengketa (Konsultasi, Negosiasi, Mediasi, Konsiliasi)

Penyelesaian Lewat Arbitrase Lebih Disukai Dari Pada Melalui Pengadilan.

  1. Format/Bentuk Klaim Penyedia Jasa

Klaim Konstruksi dpt beragam dalam bentuk dan isinya. Walaupun klaim dan perubahan  pekerjaan sasaranya adalah sama, yaitu meminta kompensasi atas biaya dan waktu, namun sesungguhnya kedua hal itu berbeda. Kompensasi atas perubahan pkrjan harus diajukan sblm pkjan trsbt dilaksanakan. Apabila blm dise7i, pkrjan trsbt tdk akan di laksanakan. Sedangkan klaim diajukan pd saat pkrjaan sudah / sedang berlangsung. Biasany cara pengajuan klaim dimulai dengan penyampaian fakta mengenai suatu pkrjan yg di tanyakan, antaranya mengenai lokasi pkrjan, & analisis biaya. Kmdian klaim dilengkapi dg ket yg mendukung klaim trsbt, yang disusun berurutan berdasarkan surat menyurat antara pengguna jasa & penyedia jasa.

Format klaim mnrt Robert D. Gilbreath dlm bknya ’ Managing Construction Conyracts’ hal 207

  1. Keterangan mengenai ketentuan2 & syarat2 kontrak sprt lingkup pkrjan & struktur  pembiayaan yg meliputi bag pkrjan yg ditanyakan
  2. Keterangan mengenai fakta peristiwa yg telah trjd biasanya di sajikan scr kronologis & mrpkan surat menyurat, perintah2 perubahan, rapat-rapat, dsb
  3. Akibat dari keadaan rangsangan klaim, biasanya disajikan sbg cerita
  4. Analisis biaya, yg mungkin termasuk rincian daftar kenaikan biaya karena perubahan / perbandingan antara biaya sesungguhnya dan biaya yang diperkirakan yang akan menunjukkan jumlah klaim

Perlu diingat bhw klaim berbeda dengan perhitungan penyedia jasa yg diakibatkan perubahan pekerjaan. Dalam pengertian yg sanagt kaku mungkin sama, dg pertimbangan bhw kedua hal tersebut Penyedia Jasa menyajikan informasi tetang tambahan biaya kepada Pengguna Jasa. Namun, pengajuan biaya perubahan pekerjaan terjadi sblm pekerjaan dilaksanakan, sedangkan sebuah klaim biasanya disajikan setelah/selama pelaksanaan pekerjaan bersangkutan.

Begitu klaim di se7i, klaim harus berubah menjadi perubahan pekerjaan.

Menurut Mc. Neil Stokes dlm bukunya ’CONSTRUCTION LAW IN CONTRACTOR’S LANGUAGE” DI HAL 140-142

Penyedia Jasa harus menyiapkan klaimny secara tertulis untuk mendapatkan kompensasi tambahan harga yang tidak ditetapkan dalam anggaran biaya, dalam pengertian mengajukan secara jelas fakta-fakta yang diperlukan untuk menunjukkan biaya dan posisinya diman dia berhak mendapatkan kenaikan harga kontrak karena perubahan pekerjaan. Tdk ada format tertentu yang diperlukan untuk mengajukan klaim. Akan tetapi klaim tersebut haruslah disusun secara logis & berisi fakta pernyataan sebanyak mungkin yang diperlukan untuk menyajikan pandangan Penyedia Jasa; jg hrs berisi / merujuk pada dokumen2 pokok & pasal2 kontrak, laporan2 dari saksi ahli & foto2 & jg hrs berisi dasar hukum kontrak & kontrak dariklaim tersebut untuk menunjukkan bahw penyedia Jasa berhak mendapatkan kenaikkan harga kontrak. Banyak Penyedia Jasa & sub Penyedia Jasa menyatakan keprihatinannya bahwa pemberitahuan tentang klaim mengakibatkan hubungan yang kurang baik dg Pengguna Jasa. Sesungguhnya klaim tdk perlu menyebabkan perselisihan jika ditangani dengan benar dan praktis &jika pihak lain dapat dibuat mengerti bhw pemberitahuan tersebut diperlukan sesuai kontrak.

Sebagai tambahan u/ memperkuat klaim PeJa / Sub-PeJa hrs mengajukan klaim tambahan waktu yang di perlukan u/ perubahan pekerjaan dlam batas penyelesaian tersebut dalam kontrak. Jika PeJa /Sub-PeJa melampaui batas ini, kemungkinan dia akan dikenakan ganti rugi keterlambatan & biayanya dapat dipotong dari pembayaran termyn atau uang retensi. Kebanyakan PeJa & Sub-PeJa diminta, berdasarkan kontrak, untuk mengajukan klaim perpanjangan waktu jika proyek terlambat karena suatu sebab untuk menghindari ganti rugi keterlambatan. Sebagai contoh; PEJA secara lisan memberi tahukan kerja tambahan kpd PeJa yang akan menyebabkan klaim perpanjangan waktu dalam batas waktu tertentu.

Mengenai hal ini PeJa dpt mengirim 1 surat kpd PeJa yg berisi 2 pertanyaan yi:

  • PeJa telah diperintahkan u/ melaksanakan pekerjaan tambahan yang menyebabkan dia menanggung biaya tambahan. Klaim u/ tambahan biaya akan diajukan kemudian.
  • Pekerjaan tambahan tersebut akan memperlambat penyelesaian pekerjaan, & penyedia jasa mengajukan klaim perpanjangan waktu u/ melaksanakan pekerjaan tambahan.

Jadi jika proyek terlambat diperlukan 2 macam klaim yi; klaim perpnjangan aktu & tambahan biaya. Kesalahan yg biasa terjadi dari PeJa adalah Peja melaksanakan pekerjaan tambahan namun hanya mengajukan klaim tambahan biaya & melalaikan perpanjangan wkt.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan hal2 sbb:

  1. Struktur Klaim
  • Keterangan tentang ketentuan & syarat2 kontrak (lingkup pekerjaan, struktur biaya)
  • Keterangan mengenai fakta kejadian (apa yg terjadi/tdk terjadi yg diuraikan secara kronologis)
  • Akibat suatu rangsangan klaim yang disajikan dlm bntk uraian di atas
  • Analisa biaya, termasuk perbandingan antara biaya sesungguhnya & yg diperkirakan.
  1. Prosedur Klaim
  • Klaim harus disiapkan secara tertulis, yg berisi fakta2 yg dapat membuktikan bahwa yg mengajukan klaim berhak u/ mendapatkannya
  • Walaupun tak ada format yang baku, klaim harus disusun secara logis & berisi sebanyak mungkin fakta yang merujuk kepada dokumen2 pokok, laporan saksi ahli, foto dokumentasi
  1. Sub-PeJa dapat melakukan hal yang sama sprt apa yg dilakukan PeJa sprt yg d uraikan dalam butir a s/d c diatas.

Contoh klaim

Pada wkt melaksanakan pkjan terowongan proyek ternyata mata bor yg dipakai tdk dpt menembus batu2an & patah. Pekjan segera dihentikan, mata bor yg patah & sampel batu itu di foto, dikirim ke lab. Hasil penelitian menyebutkan dg pasti kekerasan batuan trb menurut skala mohr yg tenyata lebih keras dari kekerasan batu yg tercantum dalam dokumen tender. Hal inilah yg ditunggu perusahaan trsbt. Selain itu, lap lab jg merekomendasikan agar dipakai mesin bor khusus dg menggunakn mata bor yg dilapisi intan u/ menembus lapisan batuan yg lebih keras. B’dsrkan hal2 trsbt perusahaan itu menyusun klaim tambahan wkt & biaya sbb:

  1. Klaim Perpanjangan wkt
  • Waktu demobilisasi mesin bor yang lama
  • Waktu mobilisasi mesin bor yg baru
  • Tambahan wkt u/ pekerjaan lain akibat tertundanya pekerjaan terowongan
  1. Klaim tambahan biaya
  • Biaya mobilisasi mesan bor yg baru
  • Tambahan biaya u/ pengeboran batuan yg lebih keras
  • Biaya tambahan u/ ahli mesin bor yg baru
  • Tambahan biaya overhead karena wkt pelaksanaan bertambah
  • Sewa tambahan u/ sewa peralatan yg idle karena menunggu mesin bor yg baru

Oleh karena klaim2 trsbt didukung data yg akurat, hampir seluruhnya diterima & dibayarkan o/ PeJa. Ditamabh dg klaim2 lain, seluruh klaim yg berdasarkan data yg akurat seluruhnya diterima.

  1. Analisis Klaim

U/ mempertimbangkan manfaat2 dari klaim & menentukan tambahan kompensasi apa yg diijinkan, PeJa hrs menganalisis secara seksama klaim tsb dlm 3 tahapan yi

1)      Analisis secara faktual

2)      Analisis scr hukum / berdasarkan kontrak

3)      Analisis biaya

Analisis klaim scr nyata & hukum lebih mudah dilakuakn jk anda mempunyai bentuk pengawasan yg cocok, rincian data, pengawasan perubahan yg tersusun, penetapan kemajuan pekerjaan & pembayaran yg obyektif, dsb.

Namun, sungguh mengejutkan betapa banyaknya variasi analisis biaya dari keadaaan fakta & hukum yg sama. Inilah daerah pembelaan klaim analisis biaya yg mengandung resiko tertinggi & menuntut perhatian terbesar dari PeJa.

Ada 2 metode yg dpt digunakan u/ menghitung biaya2 klaim yi:

1)      Metode biaya total

2)      Metode kenaikan biaya

Dengan metode biaya total PJ scr sederhana membandingkan biaya sebenarnya dari pelaksanaan suatu pekerjaan / bagian pekerjaan dg biaya yg diharapkan (biaya pd wkt penawaran / harga kontrak).

  1. Perkembangn Kejadian Suatu Klaim

3.1. Pengertian

Dalam paragraf ini akan di uraikan bagaimana proses klaim yg trjd sebagai akibat perubahan yg diperintahkan atau diminta. Sebagaimana telah diuraikan dimuka memang bnr tdk smua perubahan pekerjaan akan menjadi klaim, & tdk semua klaim harus berakhir dg sengketa. Namun demikian dlm paragraf ini perlu kita ketahui perkembangan kejadian suatu klaim.

3.2. Perubahan pekerjaan

Klaim berawal dari terjadinya suatu perubahan pekerjaan. Perubahan pekerjaan terdiri dari 2 kemungkinan :

  1. Diketahui sebelumya
  2. Tidak diketahui sebelumya

3.3. Pemberitahuan

Bila perubahan pekerjaan dikethui sebelumnya, langkah selanjutnya adalah melakukan pemberitahuan kepada Pengguna Jasa.

3.4. Permintaan Perubahan

Bila perubahan pekerjaan tidak diketahui sebelumnya, perubahan pekerjaan tersebut dinamakan perubahan tidak resmi. Untuk ini PJ harus mengajukan Permintaan Perubahan kepada Pengguna Jasa.

3.5. Penerbitan Perintah Perubahan

Apabila Pemberitahuan & Permintaan Perubahan disetujui, Pengguna Jasa wajib menerbitkan Perintah Perubahan Pekerjaan.

3.6. Klaim

Apabila pemberitahuan & / Permintaan Perubahan tdk disetujui Pengguna Jasa, PJ dapat mengajukan klaim. Bila klaim dise7i, diterbitkan Perintah Perubahan Pekerjaan.

3.7. Pengadilan / Arbitrase

Apabila klaim tdk di se7i Pengguna Jasa, berarti telah terjadi sengketa diman PJ dpt mengajukan penyelesaian sengketa lewat Arbitrase (sesuai kesepakatan dalam kontrak)

3.8. Amandemen Kontrak

Setelah terbit Perintah Perubahan, Perintah Perubahan harus diikuti dg penerbitan Amandemen Kontrak.

Catatan :

Setelah klaim dise7i melalui putusan arbitrase, penerbitan perubahan pekerjaan yg dibuat melalui amandemen kontrak memerlukan waktu paling tidak 6 bln sejak klaim dijukan ke arbitrase.

Walaupun wkt 6 bln sesungguhnya sudah ckp lama dalam 1 pelaksanaan proyek konstruksi, pilihan menyelesaikan klaim melalui arbitrase masih jauh lebih baik dari pada penyelesaian melalui Pengadilan yg dapat memakan wkt 10-15 th, suatu kurun wkt yg jauh lebih lama dari seluruh waktu pelaksanaan proyek itu sendiri yg mungkin hanya berkisar 2-3 th.

Inilah pengalaman penulis, dalam banyak kejadian amandemen kontrak tidak kunjung diterbitkan sehingga menimbulkan kesulitan terutama untuk proses pengajuan tagihan pembayaran sedangkan perubahan pekerjaan harus tetap dilaksanakan.

  1. Pengertian Change / Change Orders/ Variation

Ir. Hamid Shahab dalam bukunya ” Menyingkap dan Meneropong Undang-undang Arbitrase No.30 tahun 1999 & Jalur  Penyelesaian Alternatif ” serta kaitannya dg UU Jasa Konstruksi No. 18 th 1999 & FIDIC, hal 30-31 memberikan beberapa pengertian yg bisa dikategorikan u/ pengertina chamges :

a. Formal changes, merupakan pengarahan kepada kontraktor u/ melakuakn perubahan2 tertentu dari pekerjaan baik planningnya maupun spesifikasinya.

b. Construktif changes, merupakan suatu perubahan yg terjadi untuk melakukan suatu perbaikan2 tetapi dalam segi administratif tidak terdukung. Mengenai hal ini bisa juga diartikan sebagai suatu langkah yang tidak dilakuakn / langkah yang dilakukan oleh pemilik proyek (wakil pemilik proyek) yg dapat menimbulkan pengaruh pada biaya, waktu, maupun urutan pekerjaan. Terlepas apakah perubahan tersebut dikeluarkan secara resmi maupun tdk resmi.

c. Cardinal changes, perubahan yg besar yg fundamental atau perubahan yg sangat drastis yg dapat mengubah karakter dari pekerjaan. Mengenai cardinal changes banyak yg mengartikan sebagai suatu perubahan kontrak.

d. Design Related Changes, terkait dengan langkah2 mengkoreksi kekeliruan2 dalam design atau penyempurnaan desain melalui review. Sering kali hal ini agak rancu dg kewajiban kontraktor u/ mengadakan koreksi2 praktisi.

e. Termination, pengertian ini adalah penghentian / pengurangan bagian2 pekerjaan tertentu yang bisa dalam pengertian partial termination tetapi bisa juga dalam pengertian drastic changes atau deafult.

f. Payment Changes, perubahan terkait dengan angsuran pembayaran

g. Coordination Changes, dimana yg terjadi perubahan di sini adalah mengenai tanggung jawab koordinasi serta kewenangannya

h. Owner supply / Owner Furnished Changes, di man yg menjadi persoalan disini adalah segala sesuatu yg menjadi tanggung jawab owner mengalami perubahan

i. Higger Standard Changes, di mana dikategorikan di sini adalah perubahan2 yg dilatarbelakangi keinginan u/ mendapatkan standart produk yg lebih tinggi.

j. Delay, dimana perubahan apapun banyak mempengaruhi timbulnya delay / in-effective delay

k. Acceleration, adanya percepatan ini pada umumnya dibutuhkan untuk mengejar keterlambatan. Dalam hal ini keterlambatan tersebut merupakan akibat dari kesalahan Pemberi Jasa, dengan sendirinya tdk ada kompensasi atas akibat percepatan tersebut. Tetapi jika percepatan tersebut adalah atas permintaan dari pemilik proyek / dalam rangka mengatasi keterlambatan yg ditimbulkan oleh supply material dari pemilik proyek, maka percepatan ini sering kali menimbulkan pengaruh pada klaim

l. Disruption, dimana kelancaran pekerjaan menjadi terganggu, pekerjaan tersendat-sendat,tdk continue / menjadi tdk praktis. Masalahnya menjadi lebih berat jika pekrjaan tersebut berada di jalur kritis.

m. Kualitas Material, yg ternyata tidak memenuhi syarat atau yang mengakibatkan terjadinya defects pada pekerjaan meskipun deffects tersebut terdeteksi & akibat diperbaiki, tidak dapat dihindarkan adanya pengaruh biaya & wkt. Dalam hal ini quality control & qualityt assurakce berjalan effektif tetapi akibatnya belum tertampung di dalam perjanjian.

  1. Proses Penanganan Klaim

I. Pengertian

Untuk dapat menangani klaim dengan baik kiranya perlu ditempuh suatu proses yang tepat beserta cara2nya mulai dari personal yang terlibat, evaluasi analisis, dilanjutkan dengan perintah perubahan sampai kepada penyelesaian klaim dan contoh2 klaim

II. Administrasi Kontrak

Dalam menangani klaim, Administrasi kontrak memegang peranan penting, bahkan dapat dikatakan berhasil tidaknya penyelesaian suatu klaim sangat tergantung dari kerapian dan kecermatan memelihara & mengolah Administrasi Kontrak sejak saat kontrak ditandatangani.

Kelalaian, kecerobohan serta kurang terpeliharanya arsip dan data kontak lainnya termasuk surat menyurat antara Pengguna Jasa &PJ akan sangat melemahkan perjuangan dalam penanganan masalah klaim. Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa sasaran pertama dari pengelolaan kontrak adalah menghilangkan atau setidaknya mengurangi kemungkinan terjadinya suatu klaim.

III. Manajr Kontrak / Administrator Kontrak

Seperti proses dalam perubahan pekerjaan, Manajer Kontrak/Administrator Kontrak biasanya bertugas menangani klaim, mulai sejak klaim muncul sampai pada penyelesaiannya.

Tentu saja dengan otoritas dari Pengguna Jasa / PJ, jika suatu klaim terjadi, Manajer Kontrak/ Administrator Kontrak melakukan hal sbb:

  1. Meyakini hal tersebut secara manajerial benar
  2. Menganalisa klaim dg teliti
  3. Mencatat & mengarsipkan dengan cermat
  4. Menyelesaikan sesegera mungkin

Semua diskusi, surat menyurat, dokumen2 pendukung, dsb yg berhubungan dengan klaim harus diperoleh & dihimpun untuk evaluasi apakah klaim tersebut dapat diterima / tdk.

IV. Evaluasi

Manajer kontrak/ Administrator Kontrak kemudian memimpin suatu usaha penelitian secara mendetail termasuk didalamnya :

  1. Mewawancarai  orang2 yg bersangkutan dari pihak pengguna jasa
  2. Mempelajari dokumen kontrak, arsip proyek, laporan2 yg mungkin diperlukan untuk menganalisis klaim

Cara mengevaluasi Claim dan Counter-Claim

Dalam usaha melakuakn penanganan atas claim dan counter-claim atau biasa disebut juga konpensi dan rekonpensi perlu sekali dilakuakn beberapa tahapan yi:

  • Investigasi pendahuluan
  • Informasi mengenai adanya sarana pertemuan dan organisasi
  • Informasi mengenai susunan organisasi yang terlibat
  • Usaha mendapatkan informasi mengenai dampak yg ditimbulkan
  • Mendapatkan gambaran mengenai kerugian2 yg ditimbulkan

Tidak selalu bahwa bagian2 tersebut diatas terpisah dengan jelas sebab ada kalanya terjadi percampuran sebab akibat baik yg sengaja maupun tdk sengaja ditimbulkan o/ pihak2 yg bersengketa.

Dg adanya kenyataan demikian, langkah pertama yg sangat perlu diadakan adalah investigasi pendahuluan untuk mendapatkan data & konklusipendahuluan yg dapat mengarah kepada langkah proses penyelesaian. Tujuan utama dari investigasi pendahuluan ini adalah;

  • Untuk mengenal proyek yang terkait, baik karakteristeknya maupun jalinannya
  • Mencoba melakukan identifikasi dimana daerah2 yg bisa menimbulkan permasalahan
  • Mencoba memahami keinginan2 & kepentingan2 dari pihak yg bersengketa
  • Membentuk suatu program yg dapat mengantar kepada usaha penanganan klaim dg acara yg sistematis & efisien

Untuk menyingkap tabir dispute perlu cukup praktis sesuai dengan problemanya. Ada 2 cara yg umum dilakukan ,yi

1. sifatnya mengajukan serangkaian pertanyaan yg kemudian dilanjutkan dengan jawaban & pertanyaan susulan

2. sifatnya mengajukan pertanyaan terbatas & disusul dengan perkiraan gambaran arbiter atas sengketa yg diberikan kepada para pihak u/ dapat disangkal atau dikoreksi seperlunya.

V. Bahan-Bahan Evaluasi

Untuk melaksanakan evaluasi dengan baik diperlukan dokumen2 yang mencakup hal2 sbb :

  1. Dokumen kontrak
  2. Perubahan2 pekerjaan
  3. Ringkasan pekerjaan tambah / kurang yg telah di se7i
  4. Risalah rapat
  5. Korespondensi dengan penyedia jasa
  6. Jadwal pelaksanaan
  7. Foto2 dokumentasi proyek
  8. Laporan dsb

VI. Analisis

  1. Dalam sub-peragraf ini akan diuraikan langkah2 untuk mengevaluasi suatu klaim baik dari PJ ke Pengguna Jasa, maupun klaim dari pengguna  Jasa ke PJ
  2. Langkah pertama setelah menerima klaim adalah menghimpun semua dokumen yang berhubungan dengan klaim
  3. Apabila seluruh arsip klaim sudah lengkap maka Manajer Kontrak meminta orang2 proyek lainnya untuk menganalisis dan menyiapkan tanggapan atas klaim tersebut.

VII. Perintah Perubahan

Sekali klaim tersebut telah diselesaikan maka Perintah Perubahan Pekerjaan Harus diterbitkan. Dalam hal ini semua perubahan terhadap kontrak harus diawasi & didokumendasikan dengan baik.

VIII. Penyelesaina Klaim

Apabila cara penanganan klaim seperti diatas tidak mencapai persetujuan, klaim tadi berubah menjadi sengketa yg harus diselesaiakan melalui pengadilan atau arbitrase sesuai kesepakatan tercantum dalam kontrak

IX. Proses Penanganan Klaim Yg Disarankan

Menurut Robert D Gilbreath proses penanganan klaim yg disarankan adalah sbb:

  1. Yg harus menangani klaim adalah petugas khusus yg ditunjuk, yi Manager Kontrak dalam pengertian sebagai koordinator & bukan sebagai kuasa dari Pengguna Jasa.
  2. Sasaran utama adalah berusaha menghilangkan atau setidaknya mengurangi klaim, namun apabila muncul klaim, harus secepatnya menganalisis & mendokumentasikan semua dokumen pendukung, percakapan korespondensi,dsb
  3. Arsip klaim harus dibuat khusus
  4. Manager kontrak melakukan usaha penelitian secara detail terhadap seluruh dokumen kontrak, termasuk laporan2, catatan2 mengenai pekerjaan, serta wawan cara dengan pihak2 tertentu
  5. Menyiapkan daftar tenaga bantuan u/ analisis klaim
  6. Manajer kontrak tak bleh menyetujui klaim. Dia hanya bertugas sebagai penasehat Kepala Proyek Pengguna Jasa bila hal ini muncul.
  7. Sekali klaim terselesaikan, perubahan pekerjaan harus diterbitkan u/ mendukung permintaan
  8. Manajer Kontrak tak boleh terlibat dalam sengketa tapi ketimbang secara emosional menerima tantangan mengenai suatu klaim dg usaha sediri, libatkan &koordinasikan usaha2 personil proyek.
  1. Contoh Kasus Klaim

Sebuah kontrak lumpsum u/ memasang generator turbin u/ pusat industri litrik nuklir diberikan kepada PJ A-Mekanikal.

Peralatan akan dipasok oleh kapal tongkang 2 minggu setelah PJ A melakukan mobilisasi lapangan. Cuaca yg membeku menyebabkan es memblokir sungai yg bersebelahan dg pst listrik, dg keterlambatan 2 bulan dalam penerimaan turbin generator milik pengguna jasa. Untuk mengejar wkt, projec manajer memerintahkan PJ B u/ memulai instalasi sirkulasi pipa air dari bangunan turbin ke menara pendingin.

Pada wkt generator turbin akhirnya tiba, PJ A tidak dapat memindahkan komponen2 berat dari dermaga tongkang ke 7an penempatannya di bangunan turbine karena lubang galian pipa sedalam 7 m terisi sebagian pipa air sirkulsi yg menghalangi jalan masuk.

PJ A mengajukan klaim sebagai tambahan kompensasi karena:

  1. tenaga kerja & peralatan mengunggu 2 bulan karena es & tambahan 2 bulan u/ keterlambatan lubang pipa
  2. gudang sementara u/generator turbine dilapangan
  3. percepatan kerja segera lubang piap ditutup u/ mengatasi kehilangan wkt
  4. kehilangan keuntungan karena tidak dapat menggunakan tenaga kerja & peralatan u/ pekerjaan lain.

MENGENAL ARBITRASE,ARBITER/ARBITRATOR

  • KELEBIHAN ARBITRASE

ARBITRASE

PENGADILAN

Bebas & otonon menentukan rule & institusi arbitrase

Menghindari ketidakpastian akibat perbedaan sistem hukum dengan negara tempat sengketa diperiksa, maupun kemungkinan adanya keputusan Hakim yg unfair dengan maksud apapun, termasuk melindungi kepentingan dokumestik yg terlibat sengketa.

Keleluasaan memilih arbiter profesional, pakar dalam bidang yg menjadi objec sengketa, dan independen dalam memeriksa sengketa.

Wkt prosedur, dan biaya arbitrase lebih efisien. Putusan bersifat final and building, dan tertutup u/ upaya hukum banding atau kasasi.

Persidangan tertutup, dan karenanya memberi perlindungan u/ informasi atau data usaha yg bersifat rahasia atau tdk boleh diketahui umum

Peritimbangan hukum lebih mengutamakan aspec privat dg win solution.

Mutlak terikat pada hukum acara yg berlaku

Yg berlaku mutlak adalah sistem hukum dari Negara temapt sengketa diperiksa

Majelis hakim Pengadilan ditentukan o/ Administrsi pengadilan.

Putusan Pengadilan ditentukan o/ Administrsi pengadilan

Terbuka u/ umum

Pola pertimbangan Pengadilan & putusan hakim adalah win loose.

  • KELEMAHAN ARBITRASE

ARBITRASE

PENGADILAN

Honorarium arbiter, panitera, & administrasi relatif mahal. Tolak ukur jumlah umumnya ditentukan oleh nilai klaim sengketa. Apabila biaya ditolak atu tdk dibayarkan o/ salah satu pihak, maka pihak yg lain wjb membayarnya dulu agar sengketa diperiksa o/ arbitrase.

Relatif sulit u/ membentuk Majelis Arbitrase apabila lembaga Arbitrse Ad Hoc

Tidak memiliki juru sita sendiri sehingga  menghambat penerapan  prosedur dan mekanisme Arbitrase secara efektif.

Putusan arbitrase tidak memiliki daya paksa yg efektif, dan sangat tergantung kepada pengadilan jika putusan tidak dijalankan dengan sukarela.

Eksekusi Putusan Arbitrase cenderung mudah u/ diintervensi pihak yg kalah melalui lembaga peradilan, shg wkt realisasi pembayaran ganti rugi menjadi relatif lama.

Biaya perkara relatif murah & telah ditentukan o/ MARI

Tdk ada hambatan yg berarti dalam pembentukan Majelis Hakim yg memeriksa perkara.

Memiliki juru sita dan atau sarana pelaksana prosedur hukum acara.

Pelaksanaan putusan dapat dipaksakan secara efektif  terhadap pihak yg kalah dalam perkara.

Eksekusi Putusan yg telah memiliki kekuatan hukum yg pasti, dapat dilaksanakan meskipun kemudian ada bantahan atu verzet.

  • ISI KLAUSULA ARBITRASE (SEBELUM SENGKETA TERJADI)

PENGERTIAN

KONSEKWENSI YURIDIS

Kesepakatan yg tercantum dalam perjanjian tertulis yg dibuat para pihak sebelum timbul sengketa.

UU RI No. 30 th 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, pasal 1 ayat 1

  1. menentukan kompetisi absolute arbitrase, di man PN tdk berwenang mengadili sengketa (UU RI No. 30 th 1999 pasal 3 )
  2. PN wjb menolak & tdk akan campur tangan u/ menyelesaikan sengketa yg terikat perjanjian arbitrase (UU RI No. 30 th 1999 pasal 1)

KLAUSULA STANDAR

  1. kesepakatan para pihak u/ melaksanakan arbitrase jk tjd sengketa dalam pelaksanaan.
  2. Ruang lingkup objec arbitrase
  3. Lembaga arbitrase yg digunakan & tata cara penunjukan arbiter
  4. Rules & prosedure yg digunakan
  5. tempat dan bahasa yg digunakan
  6. pilihan terhadap hukum substansi yg berlaku
  • SYARAT2 PERJANJIAN ARBITRASE

SYARAT YG HARUS DIMUAT

KETERANGAN

  • Masalah sengketa
  • Nama lengkap dan tempat tinggal para pihak
  • Nama lengkap arbiter dan tempat tinggal atau lembaga arbitrase
  • Tempar arbiter akan mengambil keputusan
  • Nama lengkap sekretaris
  • Kurum waktu penyelesaian sengketa
  • Pernyataan kesediaan dari arbiter
  • Pernyataan kesediaan dari pihak yg bersengketa u/ berunding segala biaya yg diperlukan u/ penyelesaian sengketa melalui arbitrase
  • Perjanjian ini harus tertulis dan dalam bentuk Notariil
  • Perjanjian arbitrase yg tdk memuat semua syarat akan batal demi hukum
  • Perjanjian Arbitrase tidak batal disebabkan alasan ;
  1. Meninggalnya salah satu pihak
  2. Bangkrutnya salah satu pihak
  3. Insolvensi
  4. Pewarisan
  5. Novasi
  6. Berlakunya syarat hapusnya perikatan pokok o/ pihak ke 3
  7. Batalnya perjanjian pokok

(UU No. 30 th 1999 pasal 10)

SEBAB-SEBAB TIMBUL KLAIM

  1. SEBAB-SEBAB UMUM

KOMUNIKASI ANTARA PENGGUNA JASA DAN PENYEDIA JASA BURUK

ADMINISTRASI KONTRAK YANG TIDAK MENCUKUPI

SASARAN WAKTU YANG TIDAK TERKENDALI

KEJADIAN EXTERNAL YANG TIDAK TERKENDALI

KONTRAK YANG ARTINYA MENDUA

  1. SEBAB-SEBAB DARI PENGGUNA JASA

INFORMASI TENDER YANG TIDAK LENGKAP/ SEMPURNA MENGENAI DESAIN, BAHAN, SPESIFIKASI

PENYELIDIKAN SITE YANG TIDAK SEMPURNA/ PERUBAHAN SITE

REAKSI/ TANGGAPAN YANG LAMBAT

ALOKASI RESIKO YANG TIDAK JELAS

KELAMBATAN PEMBAYARAN

LARANGAN METODE TERTENTU

  1. SEBAB-SEBAB DARI PENYEDIA JASA

PEKERJAAN YANG CACAT/ MUTU PEKERJAAN BURUK

KELAMBATAN PENYELESAIAN

KLAIM TANDINGAN/ PERLAWANAN KLAIM

PEKERJAAN TIDAK SESUAI SPESIFIKASI

BAHANYANG DIPAKAI TIDAK MEMENUHI SYARAT GARANSI

KLAIM DPT TERJADI KARENA SEBAB-SEBAB YANG DATANGNYA BAIK DARI PENGGUNA JASA (PUGA) MAUPUN PENYEDIA JASA (PEJA) ATAU SEBAB-SEBAB LAIN. SESUNGGUHNYA INI YANG MENJD DASAR FILOSOFI ATAU PANDANGAN BAHWA KLAIM SESUNGGUHNYA SESUATU YANG WAJAR TERJADI DI DUNIA KONSTRUKSI.

UNSUR-UNSUR KLAIM

KLAIM-KLAIM KON YANG BIASA MUNCUL DAN PLNG SRNG TJD ADALAH KLAIM MENGENAI WAKTU DAN BIAYA SEBAGAI PERUAHAN PEKERJAAN.

NAMUN TERKADANG PEJA, DISAMPING MENGAJUKAN KLAIM UT PERUBAHAN PEKERJAAN, JG MENGAJUKAN KLAIM SEBAGAI DAMPAK TERHADAP PEKERJAAN YANG TDK BERUBAHà UT MENGHITUNG BIAYA PEKERJAAN YG TDK DIUBAH ADALAH TIDAK MUDAH.

BIAYA-BIAYA UT MELAKSANAKAN PERUBAHAN PEKERJAAN YG PALING BIASA TJD :

  1. KENAIKAN UPAH TENAGA KERJA/ TAMBAHAN ATAU UPAH YANG LBH TINGI
  2. TAMBAHAN MATERIAL DAN PERALATAN YANG DIPERLUKAN
  3. TAMBAHAN PENGAWASAN, ADMISTRASI DAN OVERHEAD
  4. TAMBAHAN WAKTU YG PERLU UT PELAKSANAAN
  5. MEMBUKA/ MENGERJAKAN KEMBALI PEKERJAAN
  6. PENURUNAN PRODUKTIVITAS ATAU EFISIENSI
  7. PENGARUH CUACA
  8. CATATAN MENGENAI HAMBATN-HAMBATAN DAN KELAMBATAN2
  9. DEMOBOBILISASI DAN REMOBILISASI
  10. PENANGANAN MATERIAL YANG BERLEBIAHAN
  11. BIAYA-BIAYA LEMBUR DAN WAKTU KERJA
  12. LEMBUR YANG BERLEBIHAN, YANG MENGARAH PENURUNAN PRODUKTIVITAS
  13. SALAH PENEMPATAN PERALATAN
  14. PENUMPUKAN PD TEMPAT KERJA
  15. DE-EFISIENSI DARI JENIS PEKERJAAN

KATEGORI KLAIM

KLAIM DAPAT  DIKATEGORIKAN 3 :

  1. DARI PENGGUNA JASA TERHADAP PENYEDIA JASA

PENGURANGAN NILAI KONTRAK

PERCEPATAN WAKTU PENYELESAIAN PEKERJAAN

KOMPENSASI ATAS KELALAIAN PEJA

  1. DARI PENYEDIA JASA TERHADAP PUJA

TAMABAHAN WAKTU PELAKSANAAN PEKERJAAN

TAMBAHAN KOMPENSASI

TAMBAHAN KONSESI ATAS PENGURANGAN SPESIFIKASI TEKNIS ATAU BAHAN

  1. DARI SUB PEJA ATAU PEMASOK BAHAN TERHADAP PEJA UTAMA

JENIS-JENIS KLAIM

  1. KLAIM TAMBAHAN BIAYA DAN WAKTU

KETERLAMBATAN PENYELESAIAN PEKERJAAN à TAMBAHAN WAKTU DAN BIAYA

  1. KLAIM BIAYA TAK LANGSUNG (OVRHEAD)

KETERLAMBATAN PENYELESAIAN PEKERJAAN à TAMBAHAN WAKTU DAN BIAYA

  1. KLAIM TAMBAHAN WAKTU (TANPA TAMBAHAN BIAYA)
  2. KLAIM KOMPENSASI LAIN

PROSES PENANGANA KLAIM à TUGAS

CARA-CARA MENYELESAIKAN SENGKETA KONSTRUKSI

KLAIM BUKANLAH TUNTUTAN ATAU GUGATAN YANG SUDAH DIANGGAP BENAR KARENA KLAIM TIDAK SELALU DAPAT DISELESAIKAN ATAU DIPANEUHI. APABILA KLAIM TIDAK DILAYANI, BERARTI TELAH TERJADI SENGKETA ANTARA PIHAK YANG BERKONTRAK.

SENGKETA KONSTRUKSI DAPAT TIMBUL KARENA ANTARA LA IN: KLAIM YANG TIDAK DILAYANI, MISALNYA KELAMBATAN PEMBAYARAN, KELAMBATAN PENYELESAIAN PEKERJAAN, PERBEDAAN PENAFSIRAN DOKUMEN KNTRAK, KETIDAKMAMPUAN BAIK TEKNIS MAUPUN MANAJERIAL DR PARA PIHAK.

PENGERTIAN SENGKETA

SENGKETA KONSTRUKSI ADALAH  SENGKETA YANG TERJADI SEHUBUNGAN DENGAN PELAKSANAAN SUATU USAHA JASA KONSTRUKSI ANTARA PIHAK-PIHAK YANG TERSEBUT DALAM KONTRAK KONSTRUKSI. (CONSTRUCTION DISPUTE)

SENGKETA KONSTRUKSI DAPAT DISELESAIKAN MELALUI BEBERAPA PILIHAN YANG DISEPAKATI OLEH PARA PIHAK :

  1. BADAN PERADILAN (PANGADILAN), ATAU
  2. ARBITRASE (LEMBAGA ATAU AD HOC), ATAU
  3. ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA (KONSULTASI, NEGOSIASI, MEDIASI, KONSILIASI)

PENYELESAIAN LEWAT ARBITRASE LEBIH DISUKAI D

Contoh Kasus Klaim

Sebuah proyek pembangunan Ruko di daerah BSD (Bumi Serpong Damai) dengan kontrak lump sum di berikan kepada Penyedia Jasa A. Proyek ini harus selesai pada bulan Desember 2006.

Pada saat pekerjaan galian untuk pondasi dilakukan ternyata terjadi bencana banjir yang mengakibatkan tanah yang sudah di gali kembali menutup lubang – lubang galian. Sehingga Penyedia Jasa harus mengulang pekerjaan tersebut dari awal setelah banjir itu surut. Berdasarkan hal tersebut maka Penyedia Jasa tersebut mengajukan klaim perpanjangan waktu dan tambahan biaya sebagai berikut :

  1. Klaim Perpanjangan Waktu
    1. Tambahan waktu untuk mengulang pekerjaan galian.
    2. Tambahan waktu untuk pekerjaan lain akibat tertundanya pekerjaan galian tersebut.
  2. Klaim Tambahan Biaya
    1. Tambahan biaya karena waktu pelaksanaan berubah
    2. Sewa tambahan alat – alat berat untuk mempercepat pekerjaan
    3. Biaya tambahan untuk operator alat berat

Oleh karena klaim – klaim  tersebut didukung data yang akurat, hampir seluruhnya diterima dan dibayarkan oleh Pengguna Jasa. Ditambah dengan klaim – klaim lain, seluruh klaim yang berdasarkan data yang akurat seluruhnya diterima. Dan akhirnya proyek tersebut selesai tepat waktu yaitu pada bulan Juni 2007 sesuai dengan kesepakatan yang dibuat.

Langkah-langkah atau tip penting dalam menyusun skripsi adalah :
1. Mampu melihat dan memilih masalah yang akan ditulis. Ini merupakan hal yang paling penting dari suatu SKRIPSI dan membedakan dengan menulis pada umumnya. Bagaimanapun skripsi adalah suatu bentuk karya tulis ilmiah yang mana mahasiswa diharapkan dapat berpikir ilmiah dengan membuat suatu penelitian sebagai objeknya. Untuk itu yang perlu diperhatikan adalah hal-hal yang akan sampaikan berikut.
2. “APA” masalahnya tersebut, darimana anda mengetahui bahwa itu menjadi suatu masalah. Jika informasi tersebut diperoleh dari suatu studi pustaka berdasarkan jurnal-jurnal canggih up-to-dated maka tentunya lebih mudah meyakinkan orang lain bahwa masalah tersebut cukup baik untuk dibahas. Tetapi jika hasil pemahaman subyektif atau hasil pengamatan empiris pribadi belaka maka tentunya perlu data-data pendukung yang dibuat yang lebih banyak sehingga orang dapat yakin bahwa itu memang masalah yang patut dibahas (kerja lebih banyak).
3. “MENGAPA” anda memilih masalah tersebut, karena dosen pembimbingnya yang memilihkannya, atau karena anda menyukai bidang dimana masalah tersebut berada, tentu akan membedakan strategi anda mengerjakan tugas SKRIPSI tersebut. Sebaiknya usahakan anda memilih karena anda memang menyenangi bidang dimana masalah tersebut ada. Untuk itu, apakah anda menguasai persoalan atau tidak itu tidak menjadi masalah. Jika anda menguasai persoalan , misalnya tentang pemrograman, maka tentu akan mempermudah anda menyelesaikan tugas itu. Tapi jika tidak, maka itu merupakan kesempatan berharga anda untuk mendapat knowledge yang lain (mendapat ilmu baru), meskipun itu perlu ekstra tenaga.
Ngelmu iku kelakone kanthi laku.
( indonesianya : menguasai ilmu itu perlu usaha keras, ingat cerita silat jawa: perlu bertapa dihutan-hutan atau di tempuran sungai agar digdaya ).
Jika anda tidak tahu apa-apa (netral terhadap masalah tersebut) maka usahakan bahwa masalah tersebut dipahami oleh dosen pembimbing. Jika masalah itu yang memberi adalah dosen, maka diharapkan dosen tersebut juga tahu bagaimana dengan masalah tersebut. Jika benar-benar nggak tahu tentang masalah yang akan dipilih, maka pilihlah dosen pembimbing yang anda tahu kemampuannya, yang anda anggap dapat membimbing anda (anda punya respek terhadap dia).
4. “BAGAIMANA” masalah tersebut akan dapat diselesaikan, ini tentu memperkirakan ilmu-ilmu apa yang diperlukan untuk memecahkan massalah tersebut. Bisa melihat publikasi sebelumnya. Apakah untuk itu perlu uji eksperimental, penyelesaian parametris atau pemrograman atau yang lain. Kira-kira anda mempunyai keyakinan mampu atau tidak dengan itu. Itu konsekuensinya biaya dan waktu lho.
5. “BILAMANA” masalah tersebut terpecahkan , apa yang kira-kira anda dapatkan. Bila anda tahu apa yang dapat anda berikan jika masalah tersebut terselesaikan maka ini mendukung kepercayaan diri bahwa solusi dari SKRIPSI ini akan berharga. Bahkan kalau PD maka dapat diinformasikan ke teman-teman lain, misal ke seminar dsb. Menambah kepercayaan diri, juga nilai tambah jika membuat lamaran kerja.
6. Mampu memformulasikan MASALAH yang dipilih. Jika telah mempunyai alasan yang kuat tentang suatu masalah maka untuk realitas kerjanya maka usahakan masalah tersebut diformulasikan dalam bentuk tulisan pendek. Dalam hal ini dalam bentuk ABSTRAK. Kaget ya ? . Khan biasanya bikin abstract jika tulisan sudah selesai, itu jika abstract diterjemahkan sebagai rangkuman. Lha inilah bedanya, pengalaman dulu yang mengatakan bahwa abstrak dibuat setelah selesai dikerjakan, itu SALAH. Jika kondisinya demikian maka pengerjaan skripsi anda belum berbentuk, bisa liar, bisa kesana-kemari, tidak jelas, bisa lama. Kenapa ? Karena spesifikasinya belum ada (belum jelas/samar). Dengan membuat ABSTRACT terlebih dahulu maka anda sudah berusaha memfokuskan pikiran ke masalah tersebut yaitu dengan menuliskannya. Apa abstract tersebut kaku, ya enggak. Rubah-sedikit-sedikit ya nggak apa, tetapi dengan membuat abstract, kita tahu : o000 ada perubahan, mengapa, tentunya agar lebih baik lagi. TERKENDALI.
7. Dalam membuat abstrak tersebut, perlu untuk membagi menjadi tiga tahapan utama, yaitu tahapan INTRO: yaitu mengenalkan masalah, apa, mengapa, dan batasan-batasannya (nanti jadi BAB 1 dan BAB2); tahapan PROGRES: yaitu tentang bagaimana masalah tersebut dicoba dipecahkan, termasuk juga pembahasannya (nanti jadi BAB 3 dan BAB4); dan tahapan KESIMPULAN tentang bilamana masalah dapat terpecahkan (nanti jadi BAB5).
8. Evaluasi ABSTRACT bersama dosen pembimbing. Apakah abstract sudah menggigit. Bila perlu bisa juga dimasukkan ke seminar atau minta pendapat orang lain yang kritis. Tangkap masukan yang diberikan, evaluasi atau diskusikan dengan dosen. Jika mantap maka dapat dilanjutkan. Ingat, mutu tidaknya suatu hasil penelitian (skripsi) dapat dengan mudah dibaca dari abstract-nya. Jika abstract-nya nggak ada isi-nya maka kecil kemungkinan materi skripsi yang utama juga dibaca, paling-paling disimpan digudang. Tidak membanggakan untuk ditunjukkan orang lain. Tetapi abstract yang hebat kadang-kadang bisa mengecoh.
9. Jika abstract sudah OK. Bisa dilanjutkan.
10. Jika anda sudah tahu apa masalah anda, mengapa anda memilih masalah tersebut, batasan-batasan masalah yang dipilih dan strategi penyelesaian yang akan dikerjakan maka tentunya hal itu dapat dituangkan dalam BAB 1. Penulisan BAB1 sangat penting karena menentukan luasan atau cakupan yang didiskusikan dalam bab-bab selanjutnya. Bab1 merupakan pengikat, pedoman kerja untuk bab-bab berikutnya. Jangan biasakan meniru BAB1 orang lain, belum tentu cocok. Jadi intinya Bab1 adalah pedoman kerja untuk penulisan bab-bab selanjutnya.
11. Untuk dapat mengerjakan skripsi sesuai dengan BAGAIMANA menyelesaikan masalah tersebut, tentu anda harus tahu lebih dahulu bagaimana strategi orang lain menangani atau bertindak terhadap masalah tersebut. Ini dapat diketahui dengan melakukan studi pustaka (BAB2), mereview publikasi orang lain dari jurnal-jurnal atau yang lainnya. Usahakan pakailah acuan jurnal-jurnal terkini (menurut salah satu profesor saya, gunakan jurnal dalam lima tahun terakhir). Tetapi bisa juga anda mengutip suatu karya yang pernah diterbitkan ratusan tahun yang lalu jika karya tersebut memang karya monumental di bidangnya. Sekali lagi, usahakan yang dijadikan referensi adalah jurnal ilmiah, bila terpaksa, baru textbooks.
Referensi dalam suatu penelitian and publikasi juga dapat menjadi indikasi kehebatan dari materi yang diteliti dan ditulis tersebut.
Jangan gunakan diktat kuliah sebagai referensi, karena kalau hanya diktat kuliah kayaknya kurang berbobot (kecuali yang telah dipublikasikan ke luar), jika hanya sekedar diktat copy-an sebaiknya hindari saja. Kecuali jika diktat itu diberikan oleh dosen yang terkenal pakar pada bidang yang dimaksud dan merupakan problem yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. **tetapi hati-hati, karena umumnya : dosen-dosen umumnya menyakinkan didepan kelasnya, tetapi kalau ketemu teman-teman sejawat-nya mejen **tak berkutik/pasif** Pengalaman menunjukkan bahwa diktat-diktat seperti itu di Indonesia hanya dibuat dari copy-and-paste aja. **kadang nggak bermutu**. Sorry nggak semua, tetapi kalau bisa cari rujukan yang dipublikasikan resmi.
12. Dengan memahami publikasi-publikasi yang ada tentang masalah yang dibahas tentunya dapat diambil suatu kesimpulan atau dugaan, apa-apa saja yang telah dilakukan orang.
Selanjutnya kembali ke persyaratan pembuatan skripsi (level S1) tentunya bobotnya berbeda dengan tesis (level S2) atau disertasi (level S3). Pada level S1 tidak diperlukan suatu tingkat penelitian yang orisinil seperti halnya disertasi atau kedalaman seperti level S2. Menurut pemahaman penulis : pada level S1 , mahasiswa cukup diminta belajar memahami permasalahan, mengerti alasan mengapa permasalahan tersebut perlu dibahas, mengetahui tindakan orang lain tentang masalah tersebut termasuk tahu sisi baik dan buruknya masing-masing dan dapat menerapkannya pada kasus lokal (studi kasus) serta menarik kesimpulan dari tindakan yang dikerjakannya.
Jika laporannya (skripsinya) dapat dibaca dan memperlihatkan alur logika-logika seperti di atas maka mahasiswa tersebut mestinya sudah pantas lulus level S1. Proses tersebut mencakup bab 3 – sampai bab akhir.
Pada dasarnya penulisan skripsi yang paling sulit adalah pada cara memulainya, jika sudah sampai langkah ke-10 diatas maka penulisan dapat berkembang sangat cepat, dan bab-babnya bisa berkembang. Hanya ingat bahwa bab dibatasi pada suatu tahapan yang bisa mandiri, dan ingat bahwa setiap bab satu dengan yang lainnya harus ada benang merah yang menghubungkannya (terkait).
Urutan-urutan bab, yaitu pada awal adalah intro, berkembang pada progress dan diakhiri dengan kesimpulan. Kesimpulan penting sekali, itu menunjukkan apakah penulis (mahasiswa) memahami apa yang dikerjakannya atau tidak, tergantung dari kesimpulan yang diberikan. Kesimpulan harus suatu yang spesifik tentang masalah tersebut. Apa yang terjadi , juga dengan kesimpulan dapat diketahui bahwa tulisan tersebut berguna atau tidak, bisa dilihat dari kesimpulan yang diberikan.
Ingat dalam pembuatan skripsi, ketebalan tulisan tidak bisa menjadi ukuran apakah itu berbobot atau tidak. Suatu skripsi yang tipispun jika memenuhi konsep-konsep di atas bahkan kalau dikemas dengan baik itu dapat menarik untuk dipresentasikan diforum ilmiah yang lebih luas, dan dapat dibanggakan.
O ya, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan menurut saya adalah :
• Tampilan adalah nomer satu, isi baru ke dua. Jangan dibalik dan dibandingkan dengan manusia. Pengalaman menunjukkan bahwa bila tampilan (format) suatu tulisan tidak diperhatikan (jelek) maka isinya kemungkinan besar juga tidak akan dibaca. Dalam hal seperti itu, dosen penguji akan melihat-lihat lebih banyak tulisan anda, dan ada kemungkinan menemukan suatu kesalahan dari tulisan anda.
• Pastikan format yang digunakan sesuai dengan petunjuk dari Institusi (ini penting), berapa margin kiri-atas dsb, ukuran font, jumlah spasis pada baris, dsb-nya. Format yang baik kadang-kadang dapat mengecoh dosen penguji yang malas, sehingga ada kemungkinan tidak akan ketemu kesalahan yang ada (bila ada). Sehingga waktu di uji **selamat**.
• Tentang ISI. Kualitas kadang-kadang bersifat relatif. Tergantung dosen dsb. Tetapi yang jelas dan langsung bisa dinilai adalah KONSISTENSI. Suatu tulisan harus konsisten, antara satu bagian dan bagian yang lain dalam skripsi tersebut. Jika tidak konsisten, maka itu dapat dijadikan modal untuk menguji materi skripsi tersebut. Pendapat anda saling di adu sendiri.
• Tulislah APA-APA YANG DIKUASAI saja. Jika ada hal-hal yang tidak diketahui (meski sudah usaha kesana-kemari) maka usahakan bagian tersebut dihilangkan (itu jika tidak mempengaruhi bagian-bagian lain). Jika tidak bisa maka usahakan hal tersebut di luar cakupan masalah yang diteliti. Ini penting. Ingat sebagai penulis maka seharusnya penulis menguasai tulisan yang dibuatnya. O ya, penting juga untuk mencari alasan yang bagus mengapa anda tidak perlu membahas hal tersebut (persiapan bila ada dosen yang kritis yang tahu tentang itu, tapi ini jarang terjadi, ya siapa tahu.)
• Semua tabel harus ada judul tabel dan nomer tabel, semua gambar harus ada judul gambar dan nomer gambar. Konsisten baik font dan nomernya dikeseluruhan laporan. O ya, gambar yang ditampilkan pada bagian dalam tulisan hanya yang mendukung ulasan / tulisan pada bagian itu. Jika sifatnya umum dan ukurannya besar maka sebaiknya di tampilan pada lampiran.
• Daftar Pustaka harus ada, ciri-ciri tulisan ilmiah adalah adanya acuan pustaka, dan penting yang harus diperhatikan bahwa yang dicantumkan pada Daftar Pustaka adalah yang diacu saja. Jangan sekedar nampang. Bagi orang awam memang kelihatannya keren, tulisannya didukung jurnal-jurnal ilmiah hebat, tapi bagi yang ngerti : apa-apaan ini, koq semuanya dicantumin, pasti penulisnya nggak baca dan tulisannya biasanya nggak berbobot (nggak tahu apa yang dituliskan, jadi biar tebal sembarangan nulis aja). Dosen penguji (yg tahu) cenderung ingin membuat pertanyaan menguji, “apa bener mahasiswa ini membaca pustak yang tercantum tersebut”. Hati-hati.
• Yang terakhir, jangan segan-segan untuk membaca ulang, prinsipnya semakin banyak anda membaca ulang maka semakin kecil kemungkinan kesalahan akan timbul.
Apabila mungkin, biarkan draf anda agak sehari atau dua hari sebelum merevisinya. Hal ini akan memberi jarak mental anda dengan karya sehingga kemudian anda kembali dengan prespektif baru yang berbeda dan lebih segar. Saat itu anda bukan lagi pribadi yang sama dengan ketika anda menulis draf pertama. (Atmazaki 2006)
Selain itu dengan semakin banyak membaca ulang skripsi anda maka anda semakin memahami masalah tersebut (sebagai modal nanti waktu presentasi oral).
• Ketidak-mauan membaca ulang makalah anda menunjukkan bahwa anda belum mantap dengan karya tulis yang anda buat, ada ’sesuatu’ dengan tulisan anda. Jika anda sendiri tidak mantap terhadap karya anda. Bagaimana orang lain bisa mantap. Itu prinsip menulis yang baik.
**up-dated 4 Mei 2007 **

Untuk mendukung terciptanya skripsi yang baik dan akhirnya dapat mengantar mahasiswa mencapai kelulusan dengan mantap, maka banyak membaca merupakan kunci utamanya. Oleh karena itu, ada baiknya pada bagian ini diberikan link-link di internet yang mendukung gagasan di atas, sbb :
Research Methods Knowledge Base
by Prof. William M.K. Trochim
Department of Policy Analysis and Management
Cornell University.
The Research Methods Knowledge Base is a comprehensive web-based textbook that addresses all of the topics in a typical introductory undergraduate or graduate course in social research methods. It covers the entire research process including: formulating research questions; sampling (probability and nonprobability); measurement (surveys, scaling, qualitative, unobtrusive); research design (experimental and quasi-experimental); data analysis; and, writing the research paper.
It also addresses the major theoretical and philosophical underpinnings of research including: the idea of validity in research; reliability of measures; and ethics.
The Knowledge Base was designed to be different from the many typical commercially-available research methods texts. It uses an informal, conversational style to engage both the newcomer and the more experienced student of research.
It is a fully hyperlinked text that can be integrated easily into an existing course structure or used as a sourcebook for the experienced researcher who simply wants to browse.
You and Your Research
Dr. Richard W. Hamming
This topic centered on Hamming’s observations and research on the question “Why do so few scientists make significant contributions and so many are forgotten in the long run?”
From his more than forty years of experience, thirty of which were at Bell Laboratories, he has made a number of direct observations, asked very pointed questions of scientists about what, how, and why they did things, studied the lives of great scientists and great contributions, and has done introspection and studied theories of creativity. The talk is about what he has learned in terms of the properties of the individual scientists, their abilities, traits, working habits, attitudes, and philosophy.
Research and Consultancy in Civil Engineering
School of Civil Engineering, The University of Sydney, NSW 2006 Australia
The School of Civil Engineering has staff expertise and the facilities to perform high quality research, recognised around the world. They also provide professional consulting and testing services on a wide range of engineering issues. The School runs regular research seminars on current topics, and many of their publications are available for free download in PDF.
MIT’s OpenCourseWare:
a free and open educational resource (OER) for educators, students, and self-learners around the world.
Is a publication of MIT course materials
Does not require any registration
Is not a degree-granting or certificate-granting activity
A Guide for Writing Research Papers based on APA Styles
by the Humanities Department and the Arthur C. Banks Jr. Library
Capital Community College
Hartford, Connecticut
This guide is based on recommendations of the fifth edition of the Publication Manual of the American Psychological Association (2001)published by the American Psychological Association .
Catatan : Disana juga ada petunjuk, apa-apa saja yang dapat dijadikan bahan rujukan, juga dapat diketahui bahwa pernyataan lesan dll yang tidak dapat di-retrieve kembali, ternyata tidak boleh dimasukkan dalam daftar rujukan (daftar pustaka).
Purdue’s Online Writing Lab
Free writing help and teaching resources open by OWL at Purdue University
KTH-Library E-resources (Stockholm, Sweden)
KTHB offers researchers, students and employees at KTH the most relevant bibliographic databases in science and technology, about 6500 electronic journals, about 24 000 electronic books and several e-reference works via internet.
Through KTHBs web you can also reach a lot of free web resources, accessible also to companies and to visitors not belonging to KTH
Project Gutenberg
Project Gutenberg, the first producer of free electronic books (ebooks). There are over 20,000 free books in the Project Gutenberg Online Book Catalog. A grand total of over 100,000 titles is available at Project Gutenberg Partners, Affiliates and Resources.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.